Home » » Ancaman Mematikan Industri Musik Indonesia

Ancaman Mematikan Industri Musik Indonesia

Chord Digital, statistik rekaman digital
Evolusi yang terjadi pada  dunia musikeradigital telah menciptakan pergeseran secara drastis bagi  konsumen dan produsen dalam melihat dan menggunakan industri musik. Kehadiran file musik digital yang terkompresi  membuat kita mudah mendapatkan produk musik dengan biaya yang relatif kecil atau bahkan melalui  ilegal download secara gratis, hal ini membuat industri musik mengevaluasi kembali bagaimana cara mereka mendapatkan keuntungan dari produk seni mereka. 

Sosial media berkontribusi menciptakan suatu hubungan kausalitas (demand & offer) yang secara kasat mata terlihat jelas permintaan dari konsumen bagi para seniman untuk tetap mempertahankan hubungan digital konsumen-musisi, hal ini membuat internet tidak hanya sebagai  kendaraan promosi untuk musisi, tetapi juga kebutuhan untuk mendapatkan keuntungan. Terobosan baru dalam mendistribusikan dan memasarkan produk musik seperti ini membuat musisi dan konsumen berada diatas angin, namun  menjadi bencana angin topan yang mematikan bagi pihak label rekaman yang telah kehilangan kendali dalam industri musik.

Jumat, 27 Maret 2015 pukul 15.30, berlokasi di Studio Kompasiana yang terletak di Komplek Kompas Gramedia di Jalan Palmerah Barat, Jakarta Pusat, saya mengikuti acara talkshow interaktif Kompasiana Ngulik bersama MeetTheLAbels dengan tema Ngobrolin Industri Musik di Era Digital bareng RIGBY yang merupakan rangkaian acara ngulik terakhir dengan bintang tamu Rigby dan Iman dari Universal Music Indonesia, dengan host sekaligus moderator Nadya Fatira.

Perkenalan RIGBY Band
Acara dimulai dengan perkenalan RIGBY band. Group musik ber-genre British Pop Blues asal Yogyakarta yang terbentuk pada 14 Februari 2012 ini mengakui bahwa chemistry dalam persahabatan merupakan modal awal  lahirnya RIGBY.  Band ini beranggotakan lima orang, Dika (vokal), Tedy (Gitar), Lian (Keyboard), Rio (Bass) dan Andy (Drum). “Namun pada kesempatan kali ini Tedy, sang gitaris, berhalangan hadir karena sakit” ujar dika. RIGBY terinspirasi oleh sederet nama-nama besar, sebut saja The Beatles, Eric Clapton, Bon Jovi, U2, Coldplay, Jhon Mayer, dan Richie kotzen. WOW, Good taste!

Suasana talkshow kompasiana ngulik kali ini agak berbeda dengan acara ngulik sebelumnya, dimana  Nadya selaku host mempersilakan para kompasianer yang hadir untuk langsung bertanya bila ada yang perlu ditanyakan, sehingga komunikasi lebih dua arah, lebih interaktif. Nadya lanjut bertanya kepada Iman dari Universal Music Indonesia, “Mas Iman, alasan apa yang membuat Universal Music memilih Rigby untuk masuk dapur rekaman?”. Dengan lugas Iman menjawab,  “Aksi panggung, dan olah vokal mereka yang mirip dengan Sheila on 7 (SO7) juga keunikan judul lagu mereka dalam single “Tuhan jangan lama-lama” yang membuat Pak Ian (Jan Djuhana – A&R Director Universal Music), Clive Davis-nya Indonesia, terpikat untuk memilih mereka” ujar Iman yang diamini dengan anggukan kepala host dan beberapa kompasianer yang hadir.

Salah seorang kompasianer kemudian bertanya, “Apa arti dari nama Rigby itu sendiri, karena saya coba googling tapi yang terekam malah band rigby dari Belanda?” tanya seorang perempuan belia.  “Nama Rigby sendiri diadaptasi dari sebuah literasi Inggris kuno yang mempunyai arti “Penguasa” dengan harapan mereka bisa menguasai ego idealisme, brutalisme dan unproporsionalisme mereka sendiri untuk saling berbagi dan menerima satu sama lainya sampai ketitik harmoni”, jawab dika. “Nah kalo soal band rigby asal Belanda kami juga pernah tuh di bully mereka di twitter, mereka secara skeptis menanyakan kenapa kami menggunakan nama band mereka. Hahaha” tambah dika.

Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
Nadya mempersilahkan lagi kepada kompasianer untuk bertanya, tapi dengan sedikit penekanan, yang agak berbobot. Kesempatan itu langsung saya sambut tanpa basa-basi, dengan dua pertanyaan sekaligus, pertanyaan saya “Menjelang pasar bebas regional dan multinasional pada 1 Januari 2016, selaku industri musik, seperti yang kita ketahui maraknya ilegal download berkaitan dengan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang dimana didalamnya terdapat Undang-Undang yang melindungi Hak Cipta seseorang/kelompok. Nah, diluar booming RBT dulu, kapan tepatnya musik digital di Indonesia akan mendapatkan keuntungan? Secara masih sedikit warga kita yang punya kartu kredit apalagi belanja musik di ranah digital. Pertanyaan yang kedua, bagaimana cara label mendapatkan keuntungan ketika di masa depan, maupun sekarang sudah berlangsung, setiap musisi sudah bisa memproduksi, mendistribusikan, dan memiliki kanal sendiri dalam mempromosikan dan menjual musiknya sendiri di internet?”, Skak-Mat!

Dengan menghela napas panjang Iman menjawab, “Berat banget nih pertanyaan. Hahaha... Menurutnya dampak pasar bebas di industri musik tidak terlalu signifikan, ya seperti sekarang adanya, pembajakan melalui ilegal dowload sudah ada dan akan tetap ada meskipun pasar bebas belum berlangsung. Hal itupun yang menjadi atensi kami di industri musik, bukan cuma kami saja, industri musik di amerika dan di seluruh dunia juga kena dampak yang sama, ancaman yang mematikan. Nah... Oleh karena itu kami mengambil kebijakan, untuk masuk dapur rekaman, seorang musisi atau band pendatang baru hanya diberikan kesempatan untuk rekaman single, bukan album. Ya saya yakin impian setiap band pasti memiliki rekaman album, tapi biaya produksi akan membengkak, tidak sesuai dengan hasil penjualan yang akan kami dapatkan, ya karena maraknya ilegal download itu.” jawab Iman terbata-bata. “Untuk pertanyaan kedua, soal itu kami tidak takut bersaing, karena pada dasarnya memang record label itu ada dua, indie (sesuai keinginan dan selera sang musisi) dan major (sesuai keinginan pasar, masyarakat). Okelah berbicara soal indie, sang musisi bisa memproduksi, mendistribusi, sampai mempromosikan hasil karyanya sendiri, tapi perlu digaris-bawahi, sampai sejauh mana jangkauan mereka? Kami major label memiliki jangkauan sampai ke pelosok daerah terpencil, contoh di Papua, kami merangkul lebih dari 500 stasiun radio di seluruh tanah air, belum lagi media tv atau media cetak. Kembali lagi, rejeki gak kemana, semua ada marketnya masing-masing. “ tambah Iman dengan seloroh “Ini kenapa jadi gue yang banyak bicara harusnya Rigby nih yang lebih banyak ngomong. Hahaha”

Rigby dan musik digital
Terpuruknya industri musik akibat maraknya ilegal download tidak hanya dirasakan di tanah air, wabah ini sudah menjadi epidemi dunia. Namun semua penyakit pasti ada obatnya, seperti yang ditanyakan oleh salah satu kompasianer, “Bagaimana cara Rigby mempromosikan single terbaru ke publik, dikaitkan dengan banyak sekali link download gratisan?”. “Cara kami mempromosikan single terbaru lebih berorientasi ke sosial media, melalui facebook, twitter, dan youtube. Atau ke radio-radio yang sudah ditunjuk dari pihak label. Kalopun ada yang tanya link gratisan, kami mengedukasi para fans untuk download mealui link official website, dimana mereka bisa mengunduh secara gratis dan legal.” Jawab Dika kalem. Ditambahkan Iman, “Ya sekarang kembali lagi ke publik, ke manusia-nya sendiri. Bagi fans die hard, buat mereka koleksi itu penting, mereka  pasti akan mencari cara untuk mendapatkan album/single idola mereka. Yang perlu diketahui masyarakat itu bahwa mencetak seorang musisi baru itu gak mudah, banyak perjuangan dan pengorbanannya. Contohnya Rigby ini, mereka datang dari Yogyakarta naik kereta api ekonomi, tidur di kost-an lantai lima yang cuma ada dua kasur, gak ada AC, ataupun kipas angin. Belum lagi pada saat mereka rekaman itu mereka take bisa 40 sampai 60 kali. Tapi biarlah itu menjadi pengalaman manis buat mereka nanti, belajar prihatin, kalo mereka memang berjuang dari nol. Dan kami selaku pihak label rekaman membutuhkan bintang-bintang baru untuk mengisi konten kami, konten musik itu perlu, dan harus selalu ada, harus selalu diisi dengan penuh warna. Musik yang bagus dan penuh warna itu gak ada formulanya, gak kaya menjawab pertanyaan 1 x 1 = 1. Nggak! Susah gak bisa ditebak. Makanya kalo lagi demam dangdut, RBT banjir dangdut semua, contoh RBT lagu sakitnya tuh disini, itu banyak banget variasinya, dari music house, koplo, atau apalah, banyak dari A sampai Z. Nah karena Rigby ini baru, belum kelihatan jelas penjualan single mereka, tapi penjualan album/single itu bukan faktor utama kesuksesan seorang artis. Banyak faktor lain, terutama campur tangan sosial media, kami bersyukur dari beberapa band MeetTheLAbels, Rigby mengungguli dalam hal single terbanyak yang ter-download dalam official website MeetTheLAbels. Untuk Youtube pun kami baru sebulan launching video klip tapi sudah hampir 5000 viewers, belum lagi dari facebook, dan twitter.“

Strategi baru musik digital
Kedua penanya terakhir dari kompasianer yang hadir menanyakan tentang pembajakan liar dan cara menanggulangi pembajakan liar serta strategi yang dilakukan pihak label di era digital. Dengan santai Iman menjawab, “Soal pembajakan liar itu memang sangat merugikan pihak label, bayangkan kami sudah susah payah mencetak artis, memproduksi karya mereka dalam bentuk kaset dan cd, eh malah di bajak, banyak banget tuh cd bajakan di pasaran. Gila! Pernah salah satu boss kami di kantor bilang, selama kamu masih nyimpan cd, vcd, atau dvd baik itu film atau musik bajakan, sama halnya dengan mendukung para pembajak untuk terus tumbuh subur.  Cara menanggulangi pembajakan liar ini memang harus dicari formula terbarunya, dan ini masih digodok pemerintah dibawah otoritas Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Cuma kami punya cara atau strategi baru dalam menjual musik di era digital ini, selain melalui voucher, kami masih mewacanakan untuk menjual lagu melalui pemotongan pulsa handphone, jadi gak perlu pakai kartu kredit segala, itu yang masih kami carikan solusinya.”

Acara ditutup dengan showcase Rigby yang membawakan 3 buah lagu keren, yang pertama Rigby membawakan lagu dari band yang merupakan sumber inspirasi mereka, The Beatles dengan judul “Black bird”.

Berhubung baterai iPhone saya lowbatt pas ngerekam penampilan kedua mereka saat cover lagu Sheila on 7 berjudul “Hari bersamanya”, jadi (maaf) video tidak bisa ditayangkan. Di lagu ini sangat kental kemiripan antara lagu ciptaan Rigby “Tuhan jangan lama-lama” dengan lirik akhir dari lagu ini yang berbunyi “Tuhan tolonglah...”. Lagu ini pula yang mengidentikan Rigby dengan Sheila on 7 menurut Jan Djuhana – A&R Director Universal Music. Setelah melantunkan lagu kedua, Rigby menutup penampilan dengan single terbaru mereka, “Tuhan jangan lama-lama”.

Setelah melantunkan 3 buah lagu keren, Nadya membagikan voucher kepada Kompasianer yang bertanya dengan pertanyaan yang berbobot, dan ternyata saya terpilih menjadi pemenangnya versi Nadya. Hehehe... Belum tau dia! Acara dilanjutkan dengan foto bersama Rigby dengan seluruh Kompasianer yang hadir, dan ditutup oleh MC yang mengumumkan kompetisi blog Ngulik : Industri Musik Indonesia di Era Digital. Tepat pukul lima lebih tiga puluh menit acara Kompasiana Ngulik bareng Rigby selesai. Saat akan turun ke lobby, secara kebetulan saya, Iman dari Universal Music Indonesia, dan Rigby berada dalam satu ruangan lift yang sama, saat perjalanan turun ke bawah saya bilang, pertanyaan tadi sebenarnya titipan abang saya, Wendi Putranto aka wenzrawk,  dia editor majalah Rolling Stone, dan yang satu lagi titipan dari Endah (Endah&Rhesa). Dengan tertawa Iman menjawab, “Gue kenal, dia ikut penjurian bareng kita waktu MeetTheLAbels 2013 di Bali. Pantes! Itu bukan pertanyaan blogger pada umumnya. Sukses banget bikin gue bingung. Hahaha....” Semoga saja tidak keterusan bingung untuk mencapai kesuksesan di industri musik Indonesia. 


Sumber :
http://www.kompasiana.com/dierga130/musik-digital-ancaman-mematikan-pada-industri-musik-indonesia_551f8108a33311a740b65b88

1 komentar:

Jangan takut untuk meninggalkan komentar anda, blog ini akan berkembang dengan komentar-komentar anda yang positif dan tanpa spam maupun link aktif.
Mohon maaf apabila terjadi keterlambatan balasan komentar.

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS